Diposkan pada Ikutan Lomba

Siapa Lagi yang Mau Peduli kalau Bukan Kita?

Tak ada yang meragukan pesona alam pulau Kalimantan yang tercermin dari keindahan pantai dan taman bawah laut Pulau Derawan, hingga eksotisme hutan hujan tropis di Tanjung Puting. Satwa endemis yang ada di kepulauan Derawan seperti Ubur-ubur tanpa sengat dan Orangutan Borneo (Pongo pygmeaus) di Tanjung Puting Kalimantan Tengah, telah dikenal dunia dan menjadi satwa kebanggaan Indonesia. Namun, alih-alih menjaga kelestarian alam dan satwa liar yang ada di dalamnya, manusia acap kali malah merusak alam yang merupakan habitat satwa-satwa tersebut dan tidak peduli akan keberadaan mereka yang populasinya semakin berkurang.

Beberapa tahun terakhir sering muncul pemberitaan dan kisah pilu seputar konflik manusia dan satwa liar, khususnya orangutan. Orangutan mengalami perlakuan yang tidak pantas hingga tewas akibat dipukul, dibakar penduduk bahkan ditembak oleh para pemburu satwa liar. Kali ini, orangutan borneo kembali menjadi sorotan. Pertengahan tahun 2016, IUCN (International Union for Conservation Nature) merilis berita tentang daftar spesies yang berstatus critically endangered (kritis) karena populasinya yang terus menurun dalam beberapa dekade terakhir dan orangutan borneo termasuk di dalam daftar tersebut.

Orangutan telah ber-evolusi bersama alam selama dua juta tahun. Manusia baru muncul 200.000 tahun terakhir. Namun, dalam seratus tahun ini saja, atas nama ekonomi manusia telah mendesak orangutan hingga mendekati punah. (Supernova : Partikel, halaman 189).

Penggalan kalimat di atas berasal dari novel Supernova episode Partikel karangan Dewi Lestari. Novel yang berkisah tentang cerita perjalanan hidup Zarah, seorang gadis yang pada saat berumur 17 tahun memenangkan lomba fotografi dengan hadiah utama ekowisata ke Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah melihat langsung konservasi orangutan yang ada di sana, Zarah terpikat akan kehidupan orangutan dan memutuskan untuk menjadi relawan bagi orangutan yang habitatnya rusak oleh ketamakan manusia. Dalam novel tersebut, Dewi Lestari menggambarkan keterikatan manusia dengan orangutan yang memiliki kemiripan gen hingga 97 persen. Namun, bukannya melindungi orangutan, manusia malah merasa superior dan menjadi predator bagi mereka.

Keberadaan orangutan yang berada di ambang kepunahan disebabkan oleh dua faktor utama, yakni hilangnya habitat alami orangutan dan maraknya aktivitas perburuan untuk menangkap bayi orangutan yang akan dijual di pasar gelap. Hilangnya habitat alami orangutan antara lain disebabkan oleh konversi hutan alam untuk kepentingan non kehutanan seperti pembukaan lahan untuk perkebunan, permukiman, praktik penebangan baik legal dan ilegal serta kebakaran hutan. Konflik yang terjadi antara manusia dan orangutan saat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit bagaikan lagu lama yang kerap terulang. Orangutan yang masuk areal perkebunan dianggap sebagai hama pengganggu dan sah-sah saja jika dimusnahkan. Aktivitas perburuan juga semakin marak dilakukan dengan dalih desakan ekonomi. Para pemburu tega membunuh induk orangutan terlebih dahulu untuk menangkap bayi orangutan yang akan diperjual belikan sebagai hewan peliharaan dengan harga mahal. Padahal dalam UU Republik Indonesia Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem telah jelas disebutkan bahwa orangutan termasuk satwa yang dilindungi. Bahkan pada Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 silam, konservasi orangutan secara rinci telah disusun dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017.

Orangutan merupakan spesies yang berperan penting dalam regenerasi hutan sebagai habitat alami mereka. Sebagai satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di atas pohon dan membuat sarang di pepohonan, orangutan bertugas menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem dengan membuka celah agar sinar matahari dapat masuk melewati hutan tropis yang lebat. Selain itu, orangutan adalah distributor utama biji-bijian di seluruh kawasan hutan. Orangutan mengkonsumsi buah-buahan dalam jumlah yang banyak dan menyebarkan biji buah-buahan tersebut ke seluruh kawasan hutan. Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang menjadi bagian penting dari hutan hujan tropis bergantung pada orangutan untuk penyebaran biji. Oleh karena itu, orangutan dijuluki “Gardeners of The Forest” karena kehandalannya dalam menyebarkan benih tumbuh-tumbuhan di seluruh kawasan hutan. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika orangutan punah. Tinggal menunggu waktu saja hutan akan menghilang jika kelestarian hidup orangutan tidak dijaga. Kelangsungan hidup seluruh spesies dan habitatnya ada di tangan kita, dan keberadaan mereka tentunya akan mempengaruhi kelangsungan hidup kita juga. Orangutan secara instingtif melindungi hutan sebagai habitatnya. Hutan yang lestari sangat penting bagi eksistensi seluruh umat manusia.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian hutan dan mencegah orangutan dari ancaman kepunahan? Apa harus menjadi relawan di konservasi orangutan seperti Zarah? Atau aktivis lingkungan seperti yang dilakukan Leonardo DiCaprio?
Mungkin sebagian besar dari kita berpikiran seperti ini, “Aku mah apa atuh, cuma remah-remah rengginang di kaleng Khong Guan kalau kata Minceu Lambe Turah” *ketahuan deh penikmat gosip*.

Hei, jangan sedih dulu!

Ternyata sekecil apapun tindakan yang kita lakukan, secara langsung maupun tidak langsung, sangat mempengaruhi keadaan hutan dan satwa-satwa yang berlindung di dalamnya. Menurut Chaerul Saleh, Koordinator Flagship Species WWF Indonesia, solusi nyata hanya akan efektif jika tidak ada lagi permintaan untuk produk-produk yang diekstrak dari hutan dengan cara-cara yang tidak lestari. Jadi, langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap individu adalah turut ambil bagian dalam upaya pelestarian alam dengan melakukan berbagai tindakan dan mengubah beberapa kebiasaan. Misalnya, mengurangi penggunaan kertas dan tisu agar penebangan pohon dapat berkurang, menghemat penggunaan listrik, tidak membuang sampah sembarangan dan membawa botol minum sendiri untuk mengurangi konsumsi produk minuman dalam kemasan berbahan plastik. Selain itu, tindakan lainnya yang dapat kita lakukan adalah mengurangi konsumsi minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit dan produk turunan olahan kelapa sawit lainnya seperti sabun, shampoo, deterjen, dan pasta gigi. Mengingat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan besar dilakukan dengan cara yang tidak ramah lingkungan dan merusak habitat orangutan.

Susah juga,ya! Apalagi produk-produk tersebut kita gunakan hampir setiap hari. Namun, kita harus berkomitmen untuk mengurangi penggunaan produk-produk tersebut secara bertahap dan mulai mengubah kebiasaan hidup kita yang dapat merusak lingkungan. Selanjutnya, kita dapat membantu organisasi non pemerintah dalam upaya pelestarian alam dan konservasi spesies. Bantuan yang diberikan bisa dalam bentuk waktu, pikiran, dan tenaga jika berminat sebagai relawan ataupun bantuan berupa dukungan dana. Program konservasi yang selama ini telah dilakukan antara lain oleh WWF Indonesia menunjukkan bahwa populasi orangutan dapat dipertahankan di area konsesi penebangan jika dikelola dengan cara yang berkelanjutan serta terjalin kemitraan yang kuat antara pemerintah, lembaga konservasi, peneliti dan sektor bisnis (sumber : WWF Indonesia ).

Hanya tiga persen DNA yang membedakan manusia dengan orangutan, selebihnya kita adalah spesies yang sama yang selayaknya hidup berdampingan bukan saling memusnahkan. Masa depan orangutan, kelestarian hutan dan keberlangsungan hidup manusia ditentukan oleh tindakan kita hari ini dan kepedulian kita terhadap sesama mahluk hidup.

Mari peduli!

banner-lomba-blog
#SaveOrangutan
Iklan

Penulis:

Easy like 1.. 2.. 3..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s