Diposkan pada Halan-Halan, Uncategorized

Halo-Halo Bromo

Salah satu destinasi wisata di Indonesia yang pengen banget saya kunjungi selain Labuhan Bajo, Tanjung Puting, Derawan, Karimun Jawa, Bunaken, Pulau Ora, Raja Ampat *sebutin aja semuanya, tante!* adalah Gunung Bromo di Jawa Timur. Nggak tau kenapa, bagi saya tempat itu memancarkan pesona eksotis nan romantis. Kayaknya keren aja gitu, duduk-duduk sambil ngopi bareng orang terkasih, nungguin semburat mentari pagi yang malu-malu keluar dari peraduannya *Setttttt,,bahasa guwehh!!*

Apalagi sejak Kayla, teman ikrib saya di kantor, mendapat beasiswa untuk ngelanjutin studi di Malang setahun yang lalu. Keinginan untuk mengunjungi Bromo semakin menggebu-gebu. Walaupun setelah tau bahwa perjalanan darat dari kota Malang menuju Bromo cukup jauh karena harus ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam, semangat saya untuk pergi ke sana tetap membara.

Mulai lah kami menyusun rencana, wacana dan na na na na lainnya untuk menjelajah Bromo bersama. Realisasinya? Kapan-kapan. Yang penting rencana sudah disusun matang.

Sebulan, dua bulan, satu tahun, berlalu dengan cepat. Nggak ada tanda-tanda juga saya bakal berangkat ke Malang. Trip ke Bromo, apakabar? Kayla udah kenyang saya php’in, janji-janji mulu kek Band Matta. Mending kenyang diPHD’in (pizzahutdelivery), nyaaammmm..

Sampai akhirnya, kesempatan itu datang juga. Yaaassssssss!!!

Oktober 2016, saya berangkat ke Malang and goes to Bromo bareng suami dan Kayla. Horeeeee,, #relationshipgoals #friendshipgoals banget gak sih!

Saya berangkat hari Jumat siang, 14 Oktober 2016, dari Buntok Kalimantan Tengah, tempat saya tinggal dan bekerja, menuju Palangkaraya tempat suami saya berdomisili. Iya, kita emang LDR-an dari pacaran sampai nikah. Kurleb udah 7 tahun jauh-jauhan *kemudian curhat*.

Perjalanan darat Buntok-Palangkaraya memakan waktu kurleb 4 jam. Tiba di Palangkaraya sore menjelang Maghrib. Saya langsung istirahat supaya besok stamina lebih fit karena perjalanan masih panjang.

Keesokan harinya, Sabtu, 15 Oktober 2016, saya dan suami berangkat dari Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. Penerbangan jam 11.40 WIB dan sampai di Juanda jam 12.50 WIB. Jam 1 siang lewat dikit, kami melanjutkan perjalanan menuju Malang. Normalnya, sih, Juanda-Malang cuma 2 jam. Berhubung kami datang pas weekend, jalanan padat merayap terutama di daerah Singosari. Jam 4 sore, nyampe’ juga di kost Kayla. Kami menginap di kost tersebut karena ada kamar yang kosong, lumayan per malamnya cuma Rp 50.000.

Trus ke Bromo-nya gimana?Kapan?

Tenang! Saya yang paling ngebet pengen ke Bromo udah searching dari jauh-jauh hari.

Karena kami bertiga gak ada satu pun yang pernah ke Bromo, biar gampang kami memutuskan ikutan open trip yang diadakan sama salah satu travel agent di Malang, hasil siang-malam ngubek-ngubek Instagram dengan hestek tourbromo. Cerdas, bukan?*Bukaaaannnnn!*

Perjalanan menuju Bromo dilakukan pas tengah malam, atau tanggal 16 Oktober 2016 dini hari, dengan biaya trip sebesar Rp 300.000 per orang. Diperkirakan sampai Bromo jam setengah empat subuh supaya sempet ngeliat sunrise. Jam 12 malam, kita bertiga udah nongkrong di depan kost nungguin jemputan menuju Bromo. Gak lama, datang lah mobil Jeep Hardtop yang akan mengantarkan kami. Sudah ada dua orang peserta open trip di dalam Jeep tersebut,ditambah kami bertiga, sehingga total peserta open trip jadi berapa anak-anak? Pinter!

Bro Mo,,, here we come, yo!

Sebelum perjalanan dimulai, kami mampir dulu di KFC deket Alun-Alun Malang. Kata mas driver mau  ada briefing sama owner travel agent yang ngadain open trip. Sampai di parkiran KFC, kita ketemu sama mas owner dan diinformasikan kalau Bromo dalam status siaga 3, sehingga beberapa destinasi seputaran Bromo seperti Pasir berbisik dan Padang Savana ditutup. Sebenernya saya sudah dikasih tau mas owner tentang status gunung tersebut sabtu siang sebelum saya terbang ke Surabaya. Tapi masih berharap dalam beberapa jam status Bromo berubah ke level yang cukup aman, sehingga semua destinasi bisa dijelajahi. Ternyata…., you can’t always get what you want kalo kata om Mick Jagger.

 Arrrggghhhh,,,cedih! Gagal deh foto rebahan ala Dian Sastro di lautan pasir gunung Bromo.

Yah, yang penting masih bisa liat Gunung Bromo dari dekat *menghibur diri*

Sambil briefing, kita juga dikasih welcome drink berupa air mineral kemasan (awalnya saya kira bakal dikasih minuman lokal semacam ronde atau jus apel malang) dan halal breakfast yang adalah Rice Box-nya KFC. Uwoww,,trip lokal dengan kearifan interlokal.

Perjalanan menuju Gunung Bromo dimulai.

Saya lupa persisnya rute perjalanan kami melewati daerah apa aja. Yang pasti, satu jam pertama perjalanan normal lancar, tiada rintangan yang berarti. Jalan masih lebar dengan aspal mulus walaupun ada guncangan-guncangan dikit, tapi peserta trip terlihat antusiasAntusias untuk tidur selama perjalanan. Hehe..

Satu jam berikutnya, mulai deh tuh ketemu jalan yang sempit, berkelok-kelok, tikungan-tikungan tajam, yang kalo supirnya gak jago-jago amat itu mobil bisa nyungsep ke jurang. Mendaki gunung lewati lembah banget ini sih!

Tiba di persinggahan pertama (tetep lupa nama daerahnya apa), udah banyak Jeep dan sepeda motor yang parkir. Tampak papan digital yang menginformasikan status Gunung Bromo saat itu yaitu Siaga. Kami pun berduyun-duyun turun dari mobil langsung menuju,,..toilet! Hehehe, kebelet ‘Bu!

Saya pikir udah nyampe, ternyata masih sekitar sepuluh kilometer lagi menuju Penanjakan View Point. Kebayang dinginnya kayak apa di atas sana dipagi buta begini. Saya yang ‘cuma’ pakai sweater tipis dan jaket berpenutup kepala berbahan kaos mulai kedinginan. Supaya tambah hangat, saya minta peluk membeli syal yang dijajakan mbak-mbak pedagang. Harganya Rp 30.000, dibayarin sama Kayla sekalian dia beli sarung tangan (yang menurut dia lebih cocok buat sumbu kompor minyak tanah daripada buat naik gunung). Harga sarung tangan Rp 15.000. Harga persahabatan, priceless. Eciyeehhh!

Perjalanan dilanjutkan kembali….

Sampai juga di area Penanjakan View Point (Penanjakan 1). Jeep yang kami tumpangi diparkir persis di seberang toko yang jual souvenir dan juga menjual perlengkapan seperti sarung tangan, masker, topi kupluk, dan syal dengan harga yang lebih murah dibandingkan di pos persinggahan sebelumnya. Ya sudah lah,,,anggap aja bagi-bagi rejeki.

Saat baru turun dari mobil, saya, suami dan Kayla masih biasa-biasa aja nggak kedinginan. Begitu masuk ke toko souvenir itu, kami malah menggigil.

Jangan-jangan di dalam toko ini ada berpuluh-puluh AC tak kasat mata yang dinyalakan bersamaan *lebayyyy*. Sumpah,,, dingin banget! Tapi wisatawan yang lain, terutama wisman, santai-santai aja tuh ke Bromo nggak pake jaket dan cuma pake celana pendek. Salut saya sama beliau-beliau!

Spot untuk ngeliat matahari terbit masih sekitar 50 meter lagi dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Daripada kami bertiga kalah sama dingin sebelum sampai tujuan, lebih baik menyewa jaket tebal yang ditawarkan oleh toko tersebut untuk menghangatkan tubuh. Biaya sewa jaket Rp 5000/jaket. Karena masih jam setengah 4 pagi dan sunrise masih cukup lama, kita bertiga berniat ngopi-ngopi dulu di salah satu warung yang terdapat di sepanjang sisi kiri jalan menuju Penanjakan View Point. Sementara dua sejoli teman satu mobil kami, mbak Rim dan mas Mel, udah duluan ke penanjakan.

Sepertinya, cuaca dingin berkorelasi sama nafsu makan. Kita pun memesan makanan dan minuman. Kayla makan mie rebus dan minum energen. Saya dan suami menyantap tahu goreng yang baru diangkat dari penggorengan. Udah kayak debus, tahu goreng panas masuk mulut tanpa merasa kepanasan. Suhu di Penanjakan saat itu kira-kira 7 derajat celcius *kira-kira banget!*. Baru kali ini saya ngerasain cuaca dingin sampe bikin menggigil. Dulu pernah ke Kawah Putih di Ciwidey nggak sampe sedingin ini, deh! Yaeyalah, masih tinggian daerah penanjakan Gunung Bromo (2.329 mdpl) dibandingkan Kawah Putih (2.090 mdpl). Pantesan!

Duh! Gimana mau ke yurop, nih, kalo sampai Bromo aja beku begini? *bhay main ski di Swiss*

Selesai makan-minum, kami bergegas menuju Penanjakan takut melewatkan momen munculnya Sang Mentari pagi. Baru beberapa langkah, kok saya ngos-ngosan. Dada sesak banget. Ya Tuhan, saya kenapa nih?Jangan pingsan, jangan pingsan, jangsan pingan.

Saya pun duduk di anak tangga sebelum berhasil mencapai Penanjakan View Point. Ternyata Kayla juga mengalami hal yang sama. Sementara suami saya yang duluan jalan beberapa meter di depan kami menyarankan untuk terus jalan karena tempat untuk melihat sunrise udah deket banget, sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang udah dipenuhi para wisatawan.

Busyet deh laki ai! Nggak liat apa bininya udah hampir semaput gini, malah nyuruh untuk terus jalan. Setelah beberapa menit istirahat dan mengatur napas, saya dan Kayla kembali melangkahkan kaki menuju Penanjakan.

Keadaan di sekeliling Penanjakan masih gelap, namun cahaya jingga berangsur-angsur muncul di balik hamparan pegunungan.

dscf3802
Neng, ini yang jatoh duit eneng apa duit Aa?

Para wisatawan berkumpul untuk menikmati indahnya sinar mentari pagi. Pastinya sambil selfie-selfie!

dscf3807
Mataharinya nggak ke foto 😦

dscf3848

Mahabesar Tuhan! Terimakasih diizinkan melihat Gunung Bromo dari dekat.

Setelah puas mengagumi keindahan Gunung Bromo dan tak ketinggalan berfoto dengan bermacam pose, kami pun turun dari Penanjakan kembali menuju parkiran mobil.

dscf3891
Penampakan Penanjakan View Point

Langsung pulang? Nggak, dong! Kita mampir dulu di Bukit Cinta yang  menampilkan pemandangan Gunung Bromo dan Widodaren atau yang sering disebut juga dinosaurus’s valley.

dscf3923
View dari Bukit Cinta

Ahhhh,, senangnya dirikuuu walaupun nggak semua destinasi dapat dijelajahi. Nanti saya datang lagi ya, Mas Bro Mo 🙂

Tips dari saya untuk teman-teman yang pengen ke Bromo :

  1. Pastikan kondisi Gunung Bromo aman dan semua destinasi seperti lautan pasir, padang savanna, Pura Luhur Ponten nggak ditutup dan boleh dikunjungi. Sayang banget kan, udah jauh-jauh ke sana tapi destinasi yang dikunjungi sedikit *curcol*. Tapi, jadi ada alasan sih untuk menjelajah Bromo lagi.
  2. Istirahat yang cukup terutama bagi teman-teman yang berangkat ke Bromo tengah malam (midnight trip). Perjalanan ke Bromo itu bikin hayati lelah banget, Bang! Jangan sampai sakit, lho!
  3. Buat yang nggak kuat dingin kayak saya, perlengkapan ‘perang’ seperti jaket tebal, syal, masker, sarung tangan dan topi kupluk jangan sampai ketinggalan. Dan yang paling penting, jangan lupa pake celana :))
  4. Disarankan banget bawa makanan dan minuman. Jaga-jaga aja kalau kelaparan. Tapi, jangan buang sampah sembarangan, ya! Sampah bekas bungkus makanan dsb sebaiknya dibawa pulang aja ke rumah masing-masing.

Setelah dari Bromo, perjalanan masih kami lanjutkan lagi menuju Air Terjun Coban Jahe, lho! Cerita perjalanan ke Coban Jahe dipostingan berikutnya.

Terimakasih cintaaa :*

Iklan

Penulis:

Easy like 1.. 2.. 3..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s